GOING ABROAD? WHY NOT?

Kalian pasti punya mimpi yang menurut kalian agak sulit untuk dicapai, ‘kan? Aku punya cerita tentang masa lalu yang menurutku bisa kalian ambil nilainya untuk selalu semangat dan pantang menyerah dalam menjalani hidup. Silakan dibaca sampai selesai!
Sejak kecil aku merupakan anak yang selalu berpikir positif tentang semua hal. Lebih tepatnya, aku adalah seorang penghayal. Hihihi. Hobiku sewaktu
kecil adalah menonton kartun. Pada saat itu, beberapa stasiun TV nasional
selalu menayangkan kartun anak-anak, seperti: Pokemon, Detective Conan, Naruto, Dragon Ball, Doraemon, Barbie, Dora, dll.
Detective Conan adalah anime kesukaanku hingga sekarang.
Melalui kartun-kartun inilah aku berani
bermimpi besar, berani gagal, dan berani mengejar mimpi-mimpiku.
Melalui serial kartun yang banyak
sekali kutonton, aku banyak belajar mengenai kehidupan. Aku mengetahui budaya
yang ada di negara lain, terutama Jepang, karena sejak kecil aku merupakan
penggemar anime Jepang. Dari sini,
keinginanku untuk dapat mengunjungi, mempelajari bahasa, dan menggali
kebudayaan yang ada di Jepang bertumbuh. Aku selalu menjadikan Jepang sebagai
negara impianku yang suatu saat aku yakin aku dapat mengunjunginya (nomor satu
yang wajib dikunjungi tetap Saudi Arabia ya, siapa sih umat Muslim yang tidak
mau kesana). Wkwkwk
Bagiku, Jepang merupakan negara yang sangat menarik.
Semua orang di sana terkenal sangat sopan dan sangat menghormati
orang lain. Mereka juga sangat
disiplin dan ulet. Setiap kali aku menonton anime
atau mendengarkan lagu-lagu Jepang, aku selalu merasakan harapan yang besar
untuk dapat menginjakkan kaki di Negeri Sakura itu. Aku selalu yakin Allah
pasti akan mengabulkan mimpi ini, kapanpun nantinya.
Sewaktu kelas 7 SMP, tepat tahun 2010 akhir, film
Thailand berjudul “A Little Thing Called Love” sangat terkenal di kalangan anak
sekolahku, dimana pemeran utamanya adalah Mario Maurer dan Bayfern Pimchanok.
Film ini berkisah mengenai seorang anak perempuan (Bayfern Pimchanok) yang
jatuh cinta kepada kakak kelasnya (Mario Maurer) dan berusaha untuk mendapatkan
hatinya. Saat itu aku merasa film ini sangat keren. Aku bahkan sudah beberapa
kali mengulang film Pimchanok ini. Wkwkwk.
Mereka sangat sopan sewaktu berbicara, mereka menghormati budaya mereka, bahasa
dan intonasi yang mereka ucapkan membuat aku merasa sangat tertarik untuk
mengunjungi dan mempelajari budaya yang ada di negara Thailand. Oleh karenanya,
Jepang dan Thailand merupakan 2 negara yang aku tekadkan kuat kalau aku harus
mengunjunginya suatu hari nanti.
Sejak saat itu, kehidupanku berjalan seperti biasa. Aku
tidak terlalu memaksakan diri untuk mencapai mimpi-mimpiku. Aku membiarkan semua mengalir dengan apa adanya,
namun tetap melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Hingga pada tahun 2016,
aku masuk ke bangku perkuliahan. Aku merupakan seorang mahasiswi S1 Pendidikan
Bahasa Inggris di salah satu universitas di Bengkulu. Di universitasku, baik di
tingkat rektorat maupun fakultas, setiap tahunnya diadakan seleksi untuk
mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri,
baik itu PPL ASEAN, student exchange
dalam dan luar negeri, pertukaran budaya, penelitian, dll.
Tahun 2017 akhir merupakan tahun pertamaku mengikuti
seleksi pertukaran pelajar ke luar negeri. Saat itu, aku sedang menduduki
semester 3. Seleksi yang diadakan adalah seleksi Student Exchange dari FKIP ke Kamboja. Hasilnya? Apakah aku lolos? Tentu tidak, Ferguso! 😊 wkwkwk. Kalau
dipikir-pikir lagi, saat itu aku memang masih terlalu polos dan tidak realistis
dalam menjawab pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan di negara tujuan
nantinya. Sewaktu ditanya, kujawab akan mengajarkan mereka membuat baytat
(makanan khas Bengkulu). Para penyeleksi bertatapan dan menanyaiku dengan serius,
“Nanti alat dan bahannya gimana? Ovennya?” kujawab “Pinjam kepada pemilik toko
kue yang ada di sana, alat dan bahan dibawa saja dari Indonesia, contoh kue
baytatnya juga.” Mereka pun tertawa dan memberiku saran, “Tidak semudah itu. Kalau
membawa makanan beda negara bisa-bisa ditahan di bandara, tidak semua makanan
bisa dibawa ke luar negeri.”
Dulu kupikir memangnya sesusah itu, ya? Sekarang aku baru sadar, memang aku terlalu optimis dan kurang banyak pengetahuan pada saat itu (sekarang juga sama, sih, sebenarnya wkwk). Aku terlalu sederhana dalam berpikir, sehingga tidak mempertimbangkan banyak hal. Lanjut 👉part 2
JANGAN LUPA BERMIMPI
DIWUJUDKAN! 😁
_________________
Author: Riga Okta
Director: Nici Jarsi
_________________
INSTAGRAM:


Good
ReplyDeleteThank you
DeleteThank you sharingnya. 👍👍
ReplyDeletecheers
ReplyDeleteBeli Geotextile Woven